Breaking News
recent

MENGHIDUPKAN KEMBALI KEJAYAAN REMPAH INDONESIA

Ilustrasi by : google

Karya : Radiansyah
Zawiyah News | Opini - Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki potensial besar untuk menjadi negara dengan pelabuhan terbesar di dunia. Didukung dengan letak astronomis negara ini, sebetulnya sudah sejak zaman dulu memiliki letak strategis. Karena diapit oleh dua samudra besar dan benua yang menjadi transit dari berbagai kapal pelayaran dari berbagai negara. Indonesia memang menjadi salah satu titik perdagangan penting di masa dulu, tapi dalam konteks teknologi yang berdampak ke berbagai bidang, khususnya transportasi, proyeksi dan pemetaan perdagangan kurang lebih sama dengan negara-negara lainnya. Untuk mencapai kembali kejayaan masa dulu Indonesia terus mengevaluasi kinerja pelabuhannya. Tetapi Indonesia dinilai masih ketinggalan jauh dari negara-negara tetangganya. 

Kekayaan dan hasil bumi Indonesia merupakan kebutuhan yang diperebutkan di pasaran dunia. Hal itulah yang membuat aktivitas kemaritiman (perdagangan dan pelayaran) kita amat padat dan ramai, bahkan menjadi incaran untuk dikuasai oleh bangsa lainya. Abad ke-9 Masehi adalah tercatat sebagai sejarah keemasan dan kejayaan Indonesia sebagai bangsa martim.

 Kerajaan Sriwijaya memperkuat armadanya dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang tersebar di seluruh wilayah kekuasaannya, yang disebut kekuatan pengganda. Sebagai kerajaan maritim, Sriwijaya menggunakan politik laut dengan menerapkan kebijakan, yaitu dengan mewajibkan kapal-kapal untuk singgah di pelabuhannya. Namun ketika Kerajaan Sriwijaya runtuh, kemaritiman tetap berjaya karena dilanjutkan kendalinya oleh Gajah Mada sebagai Mahapatih Kerajaan Majapahit (1293-1478 M).

Ekspor impor indonesia terus meningkat seiring berjalannya waktu, pembangunan infrastruktur terus dilakukan untuk mengejar ketertinggalan ekspor Indonesia dari negara-negara lain di kawasan asean. Saat ini, Indonesia menempati peringkat ke-4 sebagai negara pengekspor terbesar di asean. Secara mengejutkan dari hasil data BPS, Indonesia menduduki peringkat ke-4 sebagai negara pengekspor terbesar di tingkat asean dengan perolehan US$40,87 miliar atau sekira 12,3% dari total ekspor. Kalau dilihat ekspor kita di 2017 masih naik 16,8 persen. Tapi yang bikin Bapak Presiden tidak begitu happy, ekspor kita ternyata lebih rendah dibanding negara-negara tetangga.

 Kenaikan jumlah nilai ekspor ini dinilai kurang memuaskan karena ekspor Indonesia ternyata lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetanggga. Penyebab salah satunya adalah persentasi biaya logistik sebesar 17 persen dibandingkan dengan Malaysia sekitar 8 persen, Singapura 6 persen, dan Filipina sebesar 7 persen. Presiden Jokowi meminta kepada para menteri, terutama Mendag, untuk meningkatkan kinerja nilai maupun volume ekspor Indonesia. Salah satunya dengan menambah pasar atau negara tujuan ekspor, selain Amerika, China, dan Jepang. Jokowi meminta menterinya untuk melakukan diversifikasi pasar atau negara tujuan ekspor. Diversifikasi pasar ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap negara negara tersebut. 

Nusantara memiliki posisi strategis sebagai poros yang menghubungkan ‘negeri-negeri di atas angin’, yaitu Tiongkok, India, Timur Tengah, hingga Eropa. Jauh sebelum bangsa Eropa melakukan aktivitas perdagangan di Asia Tenggara, Nusantara telah menjadi pemain penting dalam perdagangan dunia dan telah lama dikenal sebagai negara pemasok utama komoditas penting di dunia, yakni rempah-rempah. Diperkirakan dalam perjalanan waktu dan pada skala dunia, sekitar 400-500 spesies tanama¬n telah dipergunakan dan dikenal sebagai rempah. Di asia Tenggara, jumlah tanaman rempah mendekati 275 spesies. rempah-rempah punya makna yang mendalam bagi terciptanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini tidak akan ada tanpa rempah-rempah. 

Filosofi rempah-rempah ialah sebagai pemersatu bangsa. Rempah-rempah juga merupakan komoditas paling penting, melebihi emas dan minyak. Meski dari sisi harga, rempah masih tergolong lebih rendah jika dibandingkan dengan minyak dan gas. Namun, ada satu hal yang penting, yakni rempah mempersatukan bangsa dan mengawali terbentuknya NKRI. Saat ini kondisi perdagangan rempah Indonesia turun jika dibandingkan dengan waktu zaman Belanda. Hal itu karena produk rempah tidak bisa memenuhi persyaratan perdagangan internasional, seperti keberlajutan, mutu, standar higienis, dan informasi akurat mengenai asal muasal barang itu dari mana. 

Umpamanya mengenai lada putih yang berasal dari Pangkal pinang, Bangka, kemudian luasan dan lokasi perkebunan perlu ada informasi detail untuk ekspor. Saat ini juga tidak ada pelabuhan-pelabuhan untuk ekspor seperti zaman belanda. Dahulu tiap daerah punya port sehingga daerah bisa langsung kirim rempah untuk ekspor. Sekarang mau kirim atau ekspor kayu manis harus melalui Surabaya. Di samping itu, tidak ada ketersediaan finansial untuk mendanai ekspor rempah seperti saat Belanda memiliki berbagai bank sendiri untuk mendanai ekspor rempah.

Indonesia terdiri atas selat-selat pulau yang merupakan titik yang memungkinkan perdagangan internasional untuk rempah-rempah pada zaman dahulu. Di dalamnya terdapat pertukaran budaya, agama, peradaban, bahasa, dan sosial. Indonesia jadi tuan rumah dari peradab¬an besar, terutama Asia Timur, Tiongkok, India, dan Eropa. Keseluruhannya saling mepengaruhi secara positif. Jalur rempah merupakan jalur yang damai, awalnya dikenalkan Mesir Kuno ribuan tahun sebelum masehi sebagai bahan pengawet. Lalu, makin jaya pada masa Kerajaan Sriwijaya, kemudian mengundang kedatangan bangsa Eropa abad ke-15 hingga ke-19. Interaksi perdagangan dan pertukaran budaya, bahasa dan agama sangat jelas pada masa Sriwijaya.

Sriwijaya juga punya kontribusi pembangunan internasional yang besar, seperti di India dan Srilanka. Sriwijaya juga punya andil pada pembangunan kuil di Tiongkok Selatan. Karena itu, diplomasi dan kontribusi Sriwijaya dari hasil perdagangan rempah sangat tinggi. Sementara itu, kontribusi Indonesia pada diplomasi internasional hanya menghabiskan sepersepuluh dari kontribusi Afrika untuk hubungan internasional.

  Dengan peran sepenting itu, rempah-rempah menjadi komoditas utama yang mampu meme¬ngaruhi kondisi politik, ekonomi, maupun sosial budaya dalam skala global. para raja mengirim ekspedisi mengarungi samudra untuk mencarinya. Pedagang mempertaruhkan nyawa dan kekayaannya, perang demi perang memperebutkannya, dunia bergolak, dan sejarah peradaban manusia berubah. 

Poros perdagangan rempah-rempah global Asia, India,Nusantara,Tiongkok, melalui perairan Hindia hingga Pasifik meninggalkan jejak peradaban yang signifikan. Terletak di sepanjang jalur maritim tersibuk di dunia, Nusantara dari masa ke masa telah menjadi daerah strategis yang amat penting dan tujuan perdagangan selama ribuan tahun. Sebagai akibat dari lalu lintas laut yang padat ke Asia Timur, Timur Tengah, Eropa, dan sebaliknya, banyak peradaban berinteraksi, bertukar pengetahuan, pengalaman, dan budaya. 




Admin

Admin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.