Breaking News
recent

Literasi Media Berbasis Kearifan Lokal: Menyaring Informasi, Menguatkan Jati Diri


Oleh: Samsuar, Dosen  Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Di tengah gempuran informasi yang tak terbendung setiap detik dari layar gawai, literasi media menjadi kebutuhan mendesak bangsa ini. Namun, literasi media yang hanya bertumpu pada pendekatan teknokratis dan kognitif tidak cukup. 

Pada tataran inilah Kita memerlukan pendekatan yang membumi, kontekstual, dan mengakar pada nilai-nilai budaya. Di sinilah kearifan lokal memainkan peran penting dalam membentuk filter sosial yang tidak hanya kritis, tapi juga beretika dan berakar pada jati diri lokalitas.

Tantangan Era Digital

Transformasi digital telah mengubah lanskap kehidupan masyarakat didunia termasuk Indonesia. Informasi berseliweran tanpa jeda ibarat tsunami telah membentuk opini, bahkan memengaruhi perilaku kolektif Masyarakat saat ini. Persoalannya saat ini di ruang digital, siapa pun bisa menjadi produsen informasi,kondisi ini amat jauh berbeda saat media massa konvensional masih berkuasa,istilah penjaga gawang tidak berlaku lagi di era ini, namun persoalan yang paling mendasar Adalah tidak semua menjadi konsumen informasi yang cerdas. Fenomena hoaks, ujaran kebencian, hingga polarisasi sosial adalah bukti lemahnya daya tangkal masyarakat terhadap arus informasi.

Literasi media hadir sebagai solusi, namun implementasinya kerap bersifat elitis, kita masih berpaku pada litersi media yang diajarkan Renee Hobbs dengan rumus 5 c nya yaitu, Access – Kemampuan untuk menemukan dan memilih informasi, Analyze – Menganalisis pesan media secara kritis. Create – Membuat dan memproduksi konten media. Reflect – Merefleksikan etika, dampak, dan ideologi media. Act – Bertindak sebagai warga digital yang aktif dan bertanggung jawab.

Rumus tersebut hanya bertumpu pada kemampuan individu mencerna logika media, namun minim sentuhan nilai-nilai lokal yang bisa menyentuh lapisan masyarakat akar rumput yang bukan kurang mampu secara ilmiah namun juga punya pengalaman dan masa lalu ingatan yang traumatis harus diperhatikan.

Kearifan Lokal Sebagai Filter Sosial

Indonesia memiliki kekayaan kearifan lokal yang luar biasa. Setiap daerah menyimpan nilai-nilai luhur seperti musyawarah, gotong royong, adab dalam berkata, dan tepo seliro. Nilai-nilai ini dapat menjadi "filter sosial" dalam menyikapi banjir informasi.

Aceh tidak kekurangan nilai-nilai luhur untuk menjadi dasar literasi media yang kontekstual. Budaya Aceh mengajarkan konsep “Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala”—sebuah prinsip hidup yang menyeimbangkan adat istiadat dan hukum Islam. Dalam konteks ini, setiap informasi yang masuk seharusnya diuji dengan dua hal: akhlak Islamiyah dan nilai-nilai lokal yang menjaga perdamaian.

Prinsip peumulia jamee (memuliakan tamu) juga dapat menjadi pelajaran untuk etika dalam bermedia sosial—bahwa siapapun yang datang ke ruang public merupakan tamu yang harus di hormati hak-haknya.

Literasi Media yang Membumi

Mengedepankan kearifan lokal dalam program literasi media bukan sekadar romantisme budaya, tapi strategi yang relevan dan strategis. Program literasi media yang disusun dengan bahasa lokal, mengangkat tokoh adat, dan dibingkai dalam narasi-narasi budaya akan lebih mudah diterima, dipercaya, dan dipraktikkan oleh masyarakat.

Pendekatan ini juga dapat mereduksi kesenjangan antara masyarakat digital-savvy dan kelompok yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisional. Literasi media berbasis kearifan lokal mampu menjembatani kecanggihan teknologi dan keluhuran budaya.

Menuju Literasi Media Kultural

Pemerintah, lembaga pendidikan, dan media massa perlu bergerak bersama. Literasi media tidak cukup hanya disampaikan dalam ruang kelas atau seminar elite. Ia harus ditradisikan melalui media komunitas, forum warga, dan narasi budaya populer yang menjangkau masyarakat luas.

Kita perlu mengembangkan kurikulum literasi media yang tidak hanya mengajarkan critical thinking, tetapi juga cultural thinking. Tidak sekadar tahu bagaimana informasi disusun dan disebar, tetapi juga mengapa kita harus mengolah dan menyaring informasi dengan nilai-nilai kebijaksanaan local.

Bangsa yang berdaulat di ruang digital bukanlah yang hanya menguasai teknologi informasi, tetapi juga yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai budayanya dalam menyikapi informasi. Literasi media yang berpijak pada kearifan lokal adalah jalan tengah yang bijak—mendamaikan antara modernitas dan identitas. Dengan begitu, kita bukan hanya menciptakan masyarakat yang cerdas media, tetapi juga masyarakat yang beradab dalam bermedia. Salam 


Editor : Redaksi

Admin

Admin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.