![]() |
| (Doc. Fara Fauzana) Ilustrasi Pelemahan Kurs Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berdampak pada kenaikan harga barang impor, biaya produksi, dan daya beli masyarakat. Kamis, (04/6/2026). |
Penulis : Ade Nurmahdiyyah
Langsa, Zawiyah News — Fluktuasi Kurs Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada stabilitas ekonomi Indonesia. Kondisi tersebut dapat memengaruhi harga barang impor, meningkatkan biaya produksi, serta berpotensi menurunkan daya beli masyarakat. Fluktuasi sendiri merupakan kondisi naik turunnya nilai tukar mata uang yang terjadi secara tidak stabil. Dalam beberapa waktu terakhir, nilai tukar rupiah menunjukkan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan ekonomi nasional, Kamis (04/6/2026).
Dalam video pidato yang diunggah melalui akun Instagram @bbc_indonesia, Prabowo Subianto mengatakan, "Masyarakat di wilayah pedesaan Indonesia tidak menggunakan dolar Amerika Serikat dalam aktivitas ekonomi sehari-hari." Menurutnya, transaksi masyarakat desa lebih banyak dilakukan menggunakan rupiah dan hasil produksi lokal sehingga fluktuasi nilai tukar dolar tidak berdampak langsung terhadap kehidupan ekonomi mereka.
Dari perspektif ekonomi, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menunjukkan adanya tekanan ekonomi yang berpotensi berdampak luas. Dengan kurs yang mencapai sekitar Rp18.021 per dolar AS, penguatan dolar dapat meningkatkan biaya impor dan mendorong kenaikan harga barang. Kondisi tersebut berisiko menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan menengah ke bawah, sehingga diperlukan kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Salah satu dampak yang dapat dirasakan masyarakat terlihat pada kenaikan harga kebutuhan pokok. Sebagai contoh konkret, pelemahan nilai tukar rupiah turut memengaruhi harga beras yang sebagian pasokannya berasal dari impor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga beras impor yang didistribusikan melalui Bulog dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebelumnya berada pada kisaran Rp9.950 per kilogram atau sekitar Rp49.750 per kemasan 5 kilogram. Namun, pada bulan Mei hingga Juni 2026, harga beras eceran di Indonesia meningkat hingga mencapai sekitar Rp15.358 per kilogram. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah dapat memberikan tekanan terhadap harga kebutuhan pokok yang secara langsung dirasakan oleh masyarakat.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa, Mulyadi, M.A., M.Phil., menilai bahwa pelemahan nilai tukar rupiah tidak dapat dilihat hanya dari satu sisi. Menurutnya, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi dan prospek tertentu sehingga penurunan yang terjadi saat ini belum tentu menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.
“Pelemahan nilai tukar rupiah tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi dan prospek tertentu sehingga penurunan yang terjadi saat ini belum tentu bersifat signifikan. Kondisi tersebut masih tergolong wajar pada batas tertentu. Apabila pemerintah melakukan perbaikan kebijakan dan pengelolaan ekonomi secara berkelanjutan, nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguat,” ujarnya.
Sementara itu, mahasiswa Fakultas Syariah, Muhammad Al Farisi, berharap pemerintah melakukan evaluasi dan perbaikan yang serius terhadap kebijakan fiskal dan moneter agar pelemahan rupiah tidak berlangsung dalam jangka panjang.
“Meski masyarakat tidak menggunakan dolar dalam transaksi sehari-hari, harga kebutuhan pokok tetap dipengaruhi oleh nilai dolar melalui mekanisme impor dan subsidi. Tanpa pengelolaan ekonomi yang tepat serta kebijakan yang berkelanjutan, kondisi ini berpotensi menjadi ancaman bagi perekonomian nasional,” ujarnya.
Editor : Redaksi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar