Breaking News
recent

DARI LULUSAN TERBAIK MENUJU DUNIA PROFESIONAL, DUA ALUMNI IAIN LANGSA BAGIKAN KISAH INSPIRATIF

                                  (Doc. Istimewa).                          Vitra Yuqadhirza, S.Sos. Menerima Penghargaan Sebagai Lulusan Terbaik Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) pada Wisuda IAIN Langsa Tahun 2023.‎


‎Penulis : Sri Rahayu

Langsa, Zawiyah NewsMenjadi lulusan terbaik bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, melainkan awal perjalanan dalam menggapai cita-cita. Hal itu dibuktikan oleh dua alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa, Vitra Yuqadhirza, S.Sos., lulusan terbaik Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) tahun 2023 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,73, dan Sonia Kartika, S.Pd., lulusan terbaik Program Studi Pendidikan Matematika tahun 2024 dengan IPK 3,78.Meski berasal dari latar belakang dan bidang yang berbeda, keduanya memiliki semangat yang sama, yakni terus belajar, memanfaatkan setiap peluang, serta menjadikan setiap tantangan sebagai bagian dari proses menuju kesuksesan.

‎Bagi Vitra, meraih predikat lulusan terbaik bukanlah hal yang diperoleh secara instan. Ia mengaku keberhasilannya didukung oleh kedisiplinan dalam belajar, aktif mengikuti organisasi, menjalin komunikasi yang baik dengan dosen, mempersiapkan materi sebelum perkuliahan, serta membiasakan diri mengerjakan tugas secara mandiri. Selain itu, ia juga memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI), sebagai media pendukung pembelajaran sehingga mampu memahami dan menyampaikan materi dengan lebih baik di kelas.

‎Vitra Yuqadhirza yang kini menjabat sebagai Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Badan Gizi Nasional mengungkapkan bahwa perjalanan kariernya dimulai bahkan sebelum resmi diwisuda. Saat masih menyelesaikan studi, ia menerima tawaran bekerja di Media Center Madrasah Ulumul Qur'an (MUQ) Langsa. Sebulan kemudian, ia kembali dipercaya menjadi staf Ma'had IAIN Langsa. Kedua pekerjaan tersebut dijalaninya secara bersamaan. Selain itu, ia juga dipercaya menjadi asisten dosen dan menggantikan dosen mengajar selama satu semester.

‎Selain bekerja, Vitra aktif mengembangkan kapasitas diri melalui berbagai pendidikan kepemimpinan. Ia mengikuti Pendidikan Kader Pemuda Bela Negara yang diselenggarakan Kementerian Pertahanan, kemudian melanjutkan Pendidikan Kader Pemimpin Muda Nasional (PKPMN) yang bekerja sama dengan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga. Pengalaman tersebut membuka jalannya mengikuti rekrutmen Badan Gizi Nasional. Setelah melalui proses seleksi, ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

‎Menurut Vitra, kebiasaan menuliskan target hidup menjadi salah satu cara yang membantunya tetap fokus terhadap impian. Sejak tahun 2023 ia telah menuliskan keinginannya menjadi seorang pemimpin, meskipun saat itu belum mengetahui bagaimana cara mewujudkannya. Kini, target tersebut berhasil tercapai.

‎Dalam perjalanan kariernya, Vitra mengaku banyak mendapat dukungan dari orang tua, dosen, serta relasi yang dibangun sejak aktif di berbagai organisasi, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Duta Damai Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Ia juga menyebut Dr. Muslim, Dr. Marhaban, serta Husaini yang bertugas di Kantor Staf Presiden (KSP) sebagai sosok yang banyak memberikan arahan, kesempatan, dan motivasi hingga dirinya mampu berkembang.

‎Salah satu keputusan terbesar yang pernah diambilnya adalah mengundurkan diri dari program Pendidikan Kader Pemimpin Muda Nasional di Lemhannas demi mengikuti tahapan seleksi Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang saat itu berada di bawah Kementerian Pertahanan. Keputusan tersebut mengharuskannya menerima sanksi administrasi dan mengganti biaya pendidikan yang telah digunakan, meskipun saat itu belum ada kepastian dirinya akan diterima. Keberanian mengambil risiko tersebut akhirnya membuahkan hasil. Setelah menyelesaikan seluruh tahapan seleksi, Vitra berhasil bergabung dengan Badan Gizi Nasional dan dipercaya menjadi Kepala SPPG.

‎Meski mengaku perjalanan kariernya setelah lulus berjalan cukup lancar, Vitra pernah mengalami kegagalan sebelum menyelesaikan kuliah. Ia sempat dinyatakan lulus di Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN), namun memilih mengundurkan diri karena tidak memperoleh restu dari orang tuanya. Ia juga pernah gagal pada seleksi SPPI gelombang pertama akibat kendala administrasi. Namun, pada seleksi gelombang kedua, ia berhasil lolos hingga akhirnya mengantarkannya pada posisi yang dijalani saat ini.

‎Bagi Vitra, pelajaran paling berharga setelah lulus adalah pentingnya menjaga sikap, menghargai orang lain, membangun relasi yang baik, serta tidak berlebihan membagikan kehidupan pribadi kepada orang lain. Menurutnya, kerendahan hati, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama menjadi bekal penting dalam menjalani kehidupan profesional.

(Doc. Istimewa)
Sonia Kartika S.Pd, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika (PMA ) IAIN Langsa. 
Berhasil Meraih Predikat Lulusan Terbaik Tahun 2024.

Sementara itu, Sonia Kartika memilih mengabdikan diri di dunia pendidikan. Lulusan terbaik Program Studi Pendidikan Matematika tahun 2024 tersebut berhasil menyelesaikan studi sarjananya dalam waktu tiga setengah tahun.

‎Tidak lama setelah sidang skripsi pada Februari 2024, Sonia mengikuti seleksi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan jalur beasiswa pemerintah. Setelah diwisuda pada Mei 2024, ia melanjutkan pendidikan PPG di Banda Aceh selama satu tahun dan berhasil ‎menyelesaikannya pada September 2025.

‎Usai menyelesaikan PPG, Sonia langsung dipercaya mengajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 6 Banda Aceh, sekolah tempat ia menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Namun, setelah terjadi banjir dan kondisi kesehatan ibunya membutuhkan perhatian lebih, ia memutuskan kembali ke kampung halaman. Saat ini Sonia aktif mengajar, membuka les privat, menulis karya ilmiah, serta menjadi mitra Badan Pusat Statistik (BPS).

‎Menurut Sonia, cita-citanya sejak awal adalah menjadi seorang guru. Keinginan tersebut telah berhasil diwujudkan. Namun, impiannya untuk melanjutkan studi magister melalui jalur beasiswa harus ditunda karena memilih mendampingi sang ibu yang sedang sakit.

‎Ia mengaku tantangan memperoleh kesempatan mengajar di daerah asalnya cukup besar. Berbeda dengan pengalamannya di Banda Aceh yang langsung mendapat panggilan mengajar setelah menjalani PPL, di daerah asalnya kesempatan tersebut dinilai lebih sulit karena berbagai faktor dalam proses penerimaan tenaga pendidik. Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus mengabdi di dunia pendidikan.

‎Bagi Sonia, pelajaran paling berharga setelah lulus adalah menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Meski harus menunda impian melanjutkan pendidikan, ia percaya setiap proses memiliki hikmah dan kesempatan baru. Dari perjalanan tersebut, ia memperoleh banyak pengalaman, mulai dari mengajar, membuka les privat, menulis karya ilmiah, hingga menjadi mitra BPS.

‎Sonia berpesan agar para lulusan tidak takut ketika jalan hidup berbeda dari rencana awal. Menurutnya, setiap proses harus dijalani dengan kesabaran, kerja keras, serta kejujuran karena kesempatan baik sering datang dari arah yang tidak terduga.

‎Perjalanan Vitra Yuqadhirza dan Sonia Kartika menunjukkan bahwa predikat lulusan terbaik bukan sekadar capaian akademik, melainkan bekal untuk terus berkembang, beradaptasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Kisah keduanya diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa maupun alumni IAIN Langsa agar terus berani bermimpi, memanfaatkan setiap peluang, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.


Editor: Redaksi



Admin

Admin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.