![]() |
| (Doc. Khairil) Foto Mahasiswa KKN dan karyawan Tambak Pak Said, di Desa Bandar khalifah, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, Rabu (19/08/2026). |
Penulis: Desi Junianda M
Desa Bandar Khalifah, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi cukup besar dalam sektor pertambakan. Letaknya yang tidak jauh dari kawasan muara dan pesisir Selat Malaka membuat masyarakat memanfaatkan kondisi alam tersebut sebagai sumber mata pencaharian. Tambak-tambak yang tersebar di wilayah desa tidak hanya menjadi tempat budidaya, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.
Budidaya tambak, khususnya udang, membutuhkan perawatan yang tidak sederhana. Para petambak harus memperhatikan kondisi air, pemberian pakan, pertumbuhan udang, hingga waktu panen. Pengelolaan air menjadi salah satu bagian penting karena kualitas air dapat memengaruhi keberlangsungan hidup udang. M. Khairul, salah satu karyawan tambak, menjelaskan bahwa pergantian air harus dilakukan secara rutin agar kondisi kolam tetap mendukung pertumbuhan udang. “Tambak memerlukan perawatan khusus. Jika tidak sesuai prosedur perawatan, maka bisa mengalami gagal panen, khususnya air. Air harus rutin kita kuras dan diganti dengan air yang baru agar udang tetap hidup sampai memasuki tahap panen,” ujarnya.
Di salah satu tambak milik Pak Said, terdapat kurang lebih 14 kolam yang digunakan untuk budidaya udang. Dalam satu siklus, proses pemeliharaan dapat berlangsung sekitar empat bulan sebelum memasuki masa panen. Dari jumlah kolam tersebut, hasil panen dapat mencapai sekitar 30 ton dalam satu kali panen. Besarnya hasil tersebut menunjukkan bahwa sektor tambak memiliki potensi ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat setempat. Meski demikian, pekerja tambak umumnya lebih berfokus pada proses pemeliharaan di lapangan dan tidak mengetahui secara langsung nilai jual udang kepada agen.
Di balik hasil panen yang menjanjikan, usaha tambak juga memiliki risiko yang perlu diperhatikan. Perubahan kondisi air, penyakit pada udang, hingga kesalahan dalam proses perawatan dapat menyebabkan kerugian bagi petambak. Karena itu, pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola tambak menjadi hal penting agar produktivitas dapat dipertahankan. Upaya meningkatkan pemahaman mengenai teknik budidaya, pengelolaan air, hingga penggunaan pakan yang lebih efisien dapat menjadi langkah untuk membantu masyarakat mengembangkan usaha tambak secara berkelanjutan.
![]() |
| (Doc. Nova Ulandari MS) Foto tambak udang pak said di Desa Bandar Khalifah, kecamatan Bendahara, kabupaten Aceh Tamiang, Rabu (19/08/2026) |
Keberadaan tambak di Desa Bandar Khalifah juga memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat karena membuka lapangan pekerjaan bagi warga. Mulai dari tenaga yang merawat kolam hingga pekerjaan lain yang berkaitan dengan proses budidaya dan panen, sektor ini memberikan peluang bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan. Dengan potensi yang dimiliki, tambak bukan hanya menjadi sumber ekonomi saat ini, tetapi juga dapat menjadi salah satu kekuatan ekonomi desa apabila dikelola dengan baik dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, potensi tambak di Desa Bandar Khalifah menunjukkan bahwa kekayaan wilayah pesisir dapat menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat. Dengan pengelolaan yang tepat, peningkatan pengetahuan petambak, serta perhatian terhadap keberlanjutan lingkungan, sektor pertambakan memiliki peluang untuk terus berkembang. Dari kolam-kolam yang berada di kawasan pesisir inilah, masyarakat Bandar Khalifah tidak hanya menggantungkan penghasilan, tetapi juga menatap peluang ekonomi yang lebih baik di masa depan.
Editor: Add Nurmahdiyyah


Tidak ada komentar:
Posting Komentar