Breaking News
recent

Kebakaran Hutan Yang Di Sebabkan Oleh Tangan-Tangan Nakal Yang Tak Bertanggung Jawab

Photo Google : Ilustrasi Akibat Kebakaran Hutan

Zawiyah News | Opini - Beberapa peristiwa  besar di Indonesia terjadi di tahun 2019.  Rasanya tak enak hati jika negeri ini tak kena bencana dan terjadi peristiwa besar. Termasuk kebakaran hutan yang terjadi  di Indonesia terkhusus pulau-pulau yang masih memiliki hutan yang kaya dengan keanekaragaman  tanamannya dan hewan-kewan yang masih ideal yaitu di Riau dan Kaimantan. 

Jika ditanya mengenai kebakaran yang terjadi tempo lalu, rasaya hati ingin berteriak, dan mengatakan aku lelah dengan semua  keadaan ini. Andai bumi mampu berucap, pasti ia akan menyerah dengan semua keadaan yang terjadi di alam saat ini. 


Lahan-lahan yang begitu rapi ditata oleh tuhan, dirusak dalam satu kedipan mata oleh tangan-tangan nakal manusia. Dan mereka bersikap seakan-akan tak ada yang terjadi. Tutup mata dan tutp kuping, itulah yang terjadi pada negeri ini saat ini. 


Disaat orang –orang hebat diberi kekuasaan, namun disalah gunakan. Kepada siapa kami pantas menuntut keadilan? Kepada pemerintah? Kepada pejabat aparatur Negara? Yang pada dasarnya mereka juga enggan membuka mata dan telinga.


Sangat miris yang terjadi pada negeri ini. Seakan sebahagian dari mereka juga ikut bungkam dalam mengatasi masalah yang terjadi dinegeri ini. 


Apakah dengan uang kalian cukup hidup bahagia? Sehingga kalian mampu melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat  menghancurkan umat. Itulah pertanyaan yang pantas kami sampaikan dari rakyat kecil. Kebakaran ini bukanlah peristiwa yang baru terjadi  di Indonesia.


Bahkan, Indonesia kerap sekali terjadi kebakaran hutan, seolah-olah kebiasaan tersebut enggan pergi dari hutan Indonesia. Sehingga muncul pertanyaan apakah ini adalah bentuk pelestarian hutan atau hanya untuk kepentingan ekonomi politik?


Dikutip dari detiknews.com Presiden Jokowi pada kunjungannya ke lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau menduga adanya upaya terorganisasi dalam peristiwa tersebut.


Hal itu diungkapkannya karena besarnya luas areal yang terbakar. Pemetaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terhadap 6 provinsi yang terjadi karhutla, dari Januari hingga September luasannya mencapai 328.724 hektar dengan 2.583 titik api.Angka luasan karhutla tahun ini sebenarnya masih kalah jauh dengan peristiwa yang sama pada 1998.


Tahun itu dianggap sebagai angka pemuncak karhutla yang mencapai 9 juta hektar. Angka itu terus menurun walau sempat menjulang lagi pada 2015 yang mencapai 2,6 juta hektar, lalu menyusut tajam pada tahun-tahun berikutnya. Dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan pada 2016 luasannya berkurang menjadi 438.363 hektar dan fluktuatif di angka 100.000 hingga 500.000 hektar pada tahun-tahun berikutnya. .


Penurunan jumlah luasan karhutla itu juga diikuti dengan penurunan anggaran penanganannya. Menurut data Bappenas dan ADB dari 1998 yang mencapai 6.307 juta dolar AS (Bappenas--ADB, 1999) terus menurun, bahkan pada beberapa tahun terakhir penurunannya cukup drastis, yakni Rp 400 miliar (2016), Rp 200 miliar (2017), Rp 165 miliar (2018), dan Rp 95 miliar (2019).


Dari data yang ada, apakah benar fakta biaya penanganan karhutla cenderung juga menurun? Kepala BNPB Benny Monardo menyebutkan biaya untuk penanganan karhutla di Sumsel menjelang Asian Games 2018 mencapai Rp 1 triliun agar acara tersebut tidak terganggu asap.


 Dengan dana sebesar itu, menurutnya, jika pencegahan bencana dilakukan secara efektif dan komprehensif seharusnya bisa digunakan untuk kepentingan masyarakat . 


Di sisi lain, upaya rehabilitasi lahan pasca-karhutla cenderung minim. Alih-alih rehabilitasi, menurut Benny Monardo, 80% lahan yang terbakar dipergunakan untuk kepentingan ekonomi khususnya perkebunan.


Dalam sudut pandang lingkungan daan social, sudah sangat jelas bahwa dampak dari kebakaran hutan ini sangat berdampak negative bukan hanya untuk lingkunganamun juga social. 


Dampak yang jelas ditimbulakan saat kebakaran ialah rusaknya ekosistem hutan, tanaman dan hewan didalamya sudah jelas punah secara perlahan, dan asap yang ditimbulkan pada saat kejadian tersebut bukan hanya berdampak kepada hutan saja. Melainkan asap tersebut mengganggu ekosistem udara dan juga air. Hal ini sangat mengganggu kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya yang berada disekitaran wilayah tersebut. 


Asap yang ditimbulkan dari kebakaran ini berakibat fatal bagi kesehatan manusia. Karena asaapnya menyebar akibat dibawa oleh angin. Rakyat yang tak berdosa haruss menanggung dosa akibat perbuatan tangan manusia yang nakal. 


Dampak dari asap yang sudah tak terkendali lagi ini berakibat buruk untuk kesehatan masyarakaat terutama anak-anak kecil. Mereka angat rentan terserang infeksi saluran pernapasan (ISPA), Ama, Paru-paru,jantung, dan juga berakibat iritasi mata. Dan dari asap yang ditimbulkan dikabarkan juga ada menelan korban jiwa. 


Pemerintah pada dasarnya telah menunjukkan upaya tegas dengan menindak beberapa korporasi yang terbukti melakukan landclearing dengan cara pembakaran. 


Namun, upaya tersebut sering dianggap setengah hati karena pada kenyataannya lebih banyakyang lolos dari jerat hukum.


Keterkaitan ini patut untuk diduga menyumbang kesulitan dalam upaya penanggulangannya. Peristiwa yang berlarut-larut dan berulang ini disadari akan memberi efek pada pembusukan politik. 


Legitimasi terhadap pemerintah akan terus berkurang mengikuti ketidakmampuan penyelesaian masalah. Bencana kebakaran dapat berubah menjadi bencana politik, dan ini yang mengkhawatirkan bagi proses pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.


Itulah yang terjadi saaat ini di Indonesia. Disaat kebenaran ingin bertindak namun berulang kali dikalahkan oleh orang-orang yang berkuasa dinegeri ini. Yang memilki kekuasaan yang tinggi. 


Begitulah keadaan Indonesia yang katanya negeri demokrasi, akan tetapi mengambil tindakan tanpa diskusi. 


Semoga kebakaran yang lalu menjadi pembelajaran untuk kita semua agar berhati hati dan saling menjaga dan juga melestarikan lingkungan hidup. Semoga tak ada lagi tangan-tangan nakal yang ingin mengambil keuntungan pribadi disetiap peristiwa. 


Penulis : Armuni
Pimred

Pimred

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.