Breaking News
recent

Adee Beulangong, Kue Tradisional Aceh Diproduksi Secara Manual di Gampong Sidorejo

Zawiyah News | Nanggroe Aceh Darussalam sebagaimana daerah-daerah lain di Indonesia juga memiliki menu khas. Itu juga merupakan sebagai warisan budaya nenek moyang kita yang harus dijaga dengan baik agar dapat lestari sampai anak cucu nanti. Dikarenakan arus globalisasi yang akan terus melanda ini bukan tidak mungkin warisan budaya seperti itu akan hilang dengan sendirinya. Gaya hidup yang serba instan pada saat ini memiliki konstribusi akan hilangnya warisan budaya seperti kuliner khas Aceh. Oleh karena itu harus diantispasi agar jati diri bangsa yang berlandaskan kultur yang khas tidak akan hilang.

Adapun menu yang menjadi kebanggaan orang aceh atau khasnya masyarakat aceh yaitu kuah pliek, kuah asam keueung, masak puteh, gulee keumamah, sie itek, sie ruboeh, dan lain sebagainya.

 Selain itu adapula kue khas orang aceh diantaranya timphan, meuseukat, wajek, bolu ikan, dodoi, bingkang, dan temasuk salah satu yang sedang kita bahas yaitu adee. Ada dua jenis adee, yang satu terbuat dari tepung terigu dan satunya lagi dari ubi, yang sedang kita bahas adalah ade yang terbuat dari tepung terigu, akan tetapi pemroduksiannya berbeda dibuat secara manual/klasik dengan menggunakan wajan yang disebut dengan Adee Beulangong.

  Kue Adee Beulangong atau sejenis bingkang manis ini hanya dapat ditemui di Aceh, yang mana biasanya terkenal dengan nama kue Adee. Kue manis ini merupakan cemilan khas Aceh, namun kalau dilihat dari segi bentuk tidak jauh berbeda dengan kue bingkang. Bedanya kue bingkang tebuat dari campuran pandan dan kelapa saja, sedangkan kue Adee ada tambahan bumbu rempah dan bawang goreng sehingga cita rasanya menjadi manis dan gurih, meski berbeda namun keduanya memiliki cita rasa yang nikmat masing-masing.

Sebelumnya, Adee memang hanya dapat ditemui di Kabupaten Pidie dan Kabupaten Pidie Jaya. Pertama sekali diproduksi oleh ibu Rosnah (50)  asal Meureudu, Pidie Jaya, Aceh. Kue Adee ini sering di konsumsi ketika acara adat seperti halnya acara perkawinan, dari situlah kue adee semakin hari semakin bertambah peminatnya, dari satu daerah menjadi tesebar luas ke daerah lainnya. Selain itu kue Adee memiliki rasa dan tekstur yang khas tesendiri. Pada saat itu Adee dijual satuannya hanya 30 ribu rupiah saja, cukup murah dikarenakan ukuran loyang yang sangat besar. 

Bahkan sebelum tahun 2004, kue Adee hanya dapat ditemui di pasar-pasar pada bulan Ramadan, atau hanya dapat ditemui ditempat-tempat pesta perkawinan saja. Namun sejak tahun 2005 kue Adee semakin berkembang dan dapat ditemui di berbagai daerah khususnya Aceh.

 Salah satunya pemroduksian Adee juga terdapat di Gampong Sidorejo Kota Langsa. Namun kue Adee yang diproduksi di Gampong Sidorejo ini disebut dengan Adee beulangong. Nah mengapa disini disebut dengan Adee Beulangong? 

Mari kita bahas! Kue Adee Beulangong yang di produksi di Gampong Sidorejo Kota Langsa berbeda pemroduksiannya dengan kue Adee biasanya yang diproduksi mengggunakan loyang atau secara modern, namun kue Adee ini diproduksi secara klasik atau secara manual dengan menggunakan beulangong (Wajan), dan di bakar menggunakan serat kelapa kering di atas aluminium yang ditutupkan pada kue Adee tadi, maka dari situlah disebutkan dengan nama Adee Beulangong.

Kue Adee Beulangong tesebut diproduksi oleh seorang ibu rumah tangga yang bernama Mira Wati/ 1997. Alasan beliau memproduksi kue Adee beulangong ini adalah hanya untuk melanjutkan estafet turun temurun dari keluarga, mulai dari nenek, mamak, sampai saat ini beralih ke ibu Mira Wati. 

Lamanya diproduksi kue Adee ini yaitu mulai dari tahun 2000 an dari neneknya sampai saat ini tahun 2022 yang masih berlanjut diproduksi oleh ibu Mira Wati sebagai produk rumahan. Pemesanan perharinya mencapai 15 sampai 20 loyang Adee, yang mana satuannya dijual dengan harga Rp.10.000, harga yang sangat tejangkau dan rasanya tidak tekalahkan  sehingga banyak yang meminati kue Adee tersebut.

Bahan yang digunakan dalam membuat kue Adee Beulangon dengan menggukan tepung terigu, bawang merah, fanily, jinten kasar, santan, tepung segitiga, dan gula.

Dalam proses pembuatan kue Adee Beulangong, semua bahan seperti yang sudah disebutkan di atas dicampurkan dalam satu wadah. Kemudian disiapkan wajan kosong diatas batu-bata yang sudah di susun. Wajan kosong tersebut ditutupkan dengan aluminium yang berisi tempurung dan serat kelapa dibakar. Setelah tempurung sudah menjadi arang, adonan Adee yang sudah dicampurkan dalam satu wadah tadi dituangkan secukupnya kedalam wajan kemudian ditutupkan kembali dengan aluminium tesebut, Adee dalam wajan dibakar dari atas dan bawah juga menggunakan arang. 

Nah, bagi anda pariwisata tentunya dalam mengunjungi sebuah daerah pasti sangat menyenangkan, bisa karena dinas kerja atau pun karena piknik. Selama di tempat itu pastinya kita akan mencoba/mencicipi menu-menu kuliner yang khas bukan? Nah sebelum pulang kembali ke kampung asal, pastinya bila anda berkunjung ke Aceh akan membeli oleh-oleh untuk keluarga dirumah. Seperti halnya kue Adee yang manis legit merupakan kue khas Aceh yang banyak orang-orang membeli sebagai oleh-oleh yang bisa dikatan wajib untuk di cobain ketika berkunjung ke Aceh.

Sangat didukung bagi para mitra usaha kuliner khas Aceh yang dapat mengembangkan hasil dari produk Aceh tersendiri. Dengan adanya penyebar luasan kuliner khas Aceh dimana-mana, maka kita dapat menjaga dan melanjutkan estafet budaya nenek moyang kita terdahulu sampai dengan anak cucu kita nanti.

Sebagai anak Nanggroe Tanah Rencong kita harus bisa menguatkan eksistensi kuliner tradisional daerah dan mengembangkannya diyakini menjadi faktor pendukung daerah untuk wisata. Perlu kita menonjolkan kekayaan budaya didaerah kita termasuk kuliner yang berdampak memberi kesan tebaik bagi wisatawan.



(Munira Ulfa)

Admin

Admin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.