Breaking News
recent

Dampak Kotoran Sapi Terhadap Lingkungan

sapi di desa asam peutek 1

Zawiyah News | Oleh : Rizka Aprillia, Ulfa Umayra (Mahasiswi IAIN LANGSA)                              Peternakan sapi mudah ditemui, terutama di daerah-daerah dataran tinggi di sebelah utara dan selatan, contohnya seperti daerah Desa Asam Peutek. Di daerah ini umumnya yang mudah ditemui adalah sapi perah di kawasan Kota Langsa. Karenanya tidak mengherankan jika terdapat koperasi-koperasi susu untuk mengumpulkan produksi susu dari peternakan-peternakan kelas rumah tangga.

Memiliki peternakan sapi sekilas memang tampak menguntungkan. Susu dapat diperah, sapi atau dagingnya dapat dijual dan kotorannya dapat dijadikan pupuk.

Namun hal terakhir itu, meski sudah terdengar umum dan lazim, ternyata di sebagian besar tempat, pada prakteknya tidaklah seperti itu. Bagi peternak sapi yang harus selalu memandikan sapi dan membersihkan kandang, mengumpulkan kotoran sapi bukanlah menjadi salah satu prioritas. Lebih mudah kotoran sapi disiram dengan air dan digelontorkan ke dalam saluran.

Daerah pemukiman warga di desa Asam Peutek, Langsa Lama Kabupaten Kota Langsa, telah tercemari limbah kotoran sapi ternak yang berada disekitarnya. Kotoran sapi tersebut merambat luas ke jalan jalan pemukiman dan menimbulkan bau tidak sedap. 

Benar adanya jika beberapa warga terbantu perekonomiannya dengan mengembangkan peternak sapi, tapi peternakan sapi tersebut juga memberikan dampak negatifnya kelingkungan yang lebih besar ketibang positifnya. Jika libah dan kotoran tersebut tidak diatasi sampai sekarang bakal merugikan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi peternakan sapi.

Memperhatikan permasalahan tersebut, dan mempertimbangkan pentingnya peternakan bagi penghidupan masyarakat di tingkat lokal, nasional, maupun global, serta mengingat perannya dalam aspek sosial, ekonomi dan ketahanan pangan, maka kita harus secara jeli dan berhati-hati mengambil sikap terkait kondisi ini. Terlebih, skala masalah akibat sektor peternakan di Indonesia mungkin tidak semasif permasalahan di negara-negara yang sektor peternakannya jauh lebih besar dan maju.

Dampak yang terjadi tidak hanya pencemaran limbah saja melainkan kotoran sapi tersebut dapat mencemarkan udara akibat gas methan yang terkandung didalam kotoran tersebut.

Ketika dampak perubahan iklim semakin mengkhawatirkan, gerakan mengurangi pangan berbahan daging menjadi populer. Para aktivis lingkungan mendesak masyarakat untuk mengurangi makan daging untuk menyelamatkan lingkungan. Beberapa aktivis telah menyerukan pemberlakuan pajak atas daging untuk mengurangi konsumsi daging.

Untuk menghindari tersebut maka teknologi yang mengurangi produksi CO2 dan NH4 harus terus dikembangkan oleh seleruh petani. Beberapa teknologi yang sudah terbukti mengurangi emisi Gas Rumah Kaca(GRK)  adalah dengan pemnfaatan limbah kotoran ternak sapi menjadi pupuk organik.  Penggunaan pupuk kompos/organik pada lahan pertanian mampu menjaga kesuburan tanah dan bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan.

Padahal jika dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk kompos maka pupuk tersebut dapat dijual atau dipergunakan sendiri jika memiliki lahan pertanian. Menurut Pak Agus, petani pupuk kompos di desa Wanasari Pengalengan, harga kotoran sapi mentah yang dikumpulkan dari para tetangganya, harganya Rp. 3000 untuk 40 kilogramnya. .

Sedangkan harga pupuk kandang 1 karung seberat 20 kilogram bisa mencapai sekitar Rp 20,000. Menurut Ibu Apriyanti, Koperasi Susu di Desa Sunten Jaya kini melarang peternak sapi untuk membuang limbahnya langsung ke saluran. Ada perencanaan untuk membuat biogas dari kotoran sapi ini yang akan dilaksanakan  dalam waktu dekat.

Kotoran dari satu ekor sapi saja bisa menghasilkan biogas yang dipakai selama 6 hingga 7 jam, sehingga akan berguna untuk kebutuhan rumah tangga seperti memasak. Dalam konteks kotoran sapi, jika diolah melalui proses sederhana, maka pupuk atau biogas yang dihasilkan tentunya akan lebih bermanfaat dibandingkan daripada hanya menjadi endapan sungai semata.

Admin

Admin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.