Penulis : Nurisda Fatmawati
Langsa, Zawiyah News – Puluhan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Langsa dibekali landasan nilai perjuangan yang berakar pada tauhid melalui kegiatan Kajian Follow Up bertema "Menata Arah Perjuangan untuk Membangun Kader yang Kritis dalam Berpikir dan Bijak dalam Bertindak". Kegiatan tersebut berlangsung di Sekretariat HMI Cabang Langsa, Gampong Meurandeh Dayah, Kecamatan Langsa Lama. Minggu, (28/6/2026).
Kajian Follow Up ini dilaksanakan oleh HMI Komisariat Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Langsa, HMI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Samudra, dan HMI Komisariat FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Universitas Samudra.
Kegiatan ini turut didampingi oleh jajaran pengurus HMI Cabang Langsa, yaitu Abdi Maulana selaku Ketua Umum HMI Cabang Langsa, Fariza Nurdianti selaku Ketua Umum KOHATI (Korps HMI-Wati) HMI Cabang Langsa, serta Syarimin, S.Sos., selaku Instruktur HMI Cabang Langsa. Selain itu, kegiatan juga menghadirkan Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Langsa, Sopian Hamid, S.Pd., M.Pd., sebagai pemateri. Kehadiran jajaran pengurus HMI dan perwakilan Pemerintah Kota Langsa tersebut mencerminkan sinergi dalam mendukung pembinaan karakter, kepemimpinan, dan penguatan kapasitas generasi muda.
Sebanyak 30 kader dari Universitas Samudra, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa, dan Universitas Cut Nyak Dhien mengikuti kegiatan ini. Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi intelektual sekaligus spiritual bagi mahasiswa Islam.
Narasumber utama, Dr. Muhammad Dayyan, M.Ec., yang merupakan akademisi IAIN Langsa sekaligus mantan Ketua Umum HMI Banda Aceh, menegaskan bahwa mahasiswa harus berpijak pada nilai-nilai yang kokoh.
"Landasan nilai seorang mahasiswa Islam adalah tauhid. Laa ilaha illa Allah. Artinya membebaskan diri dari tuhan-tuhan kecil, seperti berhala, uang, jabatan, dan gelar. Hanya Allah tujuan yang disembah," ujar Dayyan di hadapan peserta.
Menurutnya, konsekuensi logis dari tauhid adalah tanggung jawab untuk menjalankan amar makruf nahi mungkar. Mahasiswa tidak boleh bersikap apatis, melainkan harus menjadi penyambung kebaikan dan penegak kebenaran di lingkungan kampus, masyarakat, hingga bangsa.
"Tauhid melahirkan pola pikir yang berujung pada amal saleh. Jika ini menjadi dasar, maka akan lahir insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang berorientasi pada terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT," jelasnya.
Dayyan mengatakan bahwa nilai tauhid menjadi antitesis terhadap paham ateisme, hedonisme, materialisme, dan paganisme yang menuhankan hawa nafsu.
"Di era sekarang, kemungkaran hadir dalam berbagai bentuk baru, seperti penipuan, pamer aurat di media sosial, sikap individualis, apatis, hingga gaya hidup yang hanya mengejar sensasi indrawi dan melupakan spiritualitas," tegasnya.
Ia menekankan bahwa tauhid mengajarkan keseimbangan antara material dan spiritual, individu dan sosial, serta dunia dan akhirat. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus dibarengi dengan tindakan bijaksana yang membawa kemaslahatan bagi umat.
"Bagi mahasiswa, tauhid melahirkan tiga sikap, yaitu kritis tanpa rasa takut, percaya diri tanpa merendahkan orang lain, serta berorientasi pada kebenaran dan ilmu pengetahuan," pungkasnya.
Melalui forum ini, HMI berharap dapat melahirkan kader-kader yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara ideologis, berintegritas, serta beradab dalam berpikir dan bertindak.
Editor: Redaksi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar