Breaking News
recent

MENANAM HARAPAN, MERAWAT KEBERSAMAAN : REFLEKSI KOLABORASI MAHASISWA KKN BERSAMA IBUK PKK DESA BUKIT SARI, KECAMATAN PADANG TUALANG MEMBUAT APOTIK HIDUP

(Doc. Buana Rizky Darmawan)
kolaborasi Ibu PKK Bersama Mahasiswa KKN IAIN Langsa Kelompok 15 Desa Bukit Sari. Kamis, (13/08/2026)

 

Buana Rizky Darmawan, 

Mukhlis

Mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN)

Kelompok 15 Desa Bukit Sari

Refleksi

Ada kalanya sebuah kegiatan sederhana justru meninggalkan kesan yang paling dalam. Bagi kami, salah satunya adalah ketika tangan-tangan mahasiswa KKN dan Ibu PKK Desa Bukit Sari bertemu di atas tanah, membersihkan lahan, menyiapkan tempat tanam, dan menanam berbagai jenis tanaman obat-obatan yang nantinya dapat dimanfaatkan bersama. 

Sekilas, kegiatan tersebut mungkin hanya terlihat sebagai salah satu program kerja KKN. Namun bagi kami, pengalaman itu menjadi pelajaran tentang bagaimana sebuah gagasan dapat tumbuh ketika dikerjakan bersama.

Kegiatan pembuatan apotek hidup dan pemanfaatan lahan untuk penanaman sayuran menjadi salah satu bentuk kolaborasi mahasiswa KKN Kelompok 15 dengan Ibu PKK di Desa Bukit Sari. Program ini berangkat dari keinginan untuk memanfaatkan lahan Ibu PKK yang tersedia agar memiliki nilai guna bagi masyarakat. Kami tidak ingin kehadiran mahasiswa KKN hanya meninggalkan sebuah kegiatan yang selesai ketika masa pengabdian berakhir. Lebih dari itu, kami berharap apa yang kami kerjakan bersama dapat terus dirawat dan memberikan manfaat bagi masyarakat.


Sebelum memulai kegiatan, kami melihat kondisi lahan yang akan digunakan. Lahan tersebut perlu dibersihkan dan ditata terlebih dahulu agar dapat dimanfaatkan secara lebih baik. Dari proses awal tersebut, kami mulai memahami bahwa menjalankan sebuah program tidak selalu mudah yang terlihat seperti perencanaan awal. Ada pekerjaan yang membutuhkan tenaga, kesabaran, dan kerja sama. Namun, ketika dilakukan bersama-sama, pekerjaan yang semula terasa berat perlahan menjadi lebih ringan.


Dalam proses tersebut, kami tidak bekerja sendiri. Ibu PKK turut terlibat dalam menyiapkan dan mengelola lahan. Kehadiran mereka membuat kegiatan terasa lebih dekat dengan masyarakat. Kami belajar dari pengalaman mereka mengenai lingkungan sekitar, sementara kami turut memberikan gagasan dan tenaga untuk membantu mewujudkan program yang telah direncanakan. Pertemuan antara pengalaman masyarakat dan semangat mahasiswa itulah yang membuat kegiatan ini terasa berbeda.


Bagi kami, kolaborasi bukan sekadar membagi tugas. Kolaborasi berarti saling mendengarkan, saling membantu, dan memiliki tujuan yang sama. Ada saat ketika kami harus menyesuaikan rencana dengan kondisi di 

lapangan. Ada pula hal-hal kecil yang baru kami pahami setelah berdiskusi dengan Ibu PKK. Dari sana kami belajar bahwa program pengabdian kepada masyarakat tidak dapat dibangun hanya berdasarkan apa yang menurut mahasiswa baik, tetapi juga harus mempertimbangkan kebutuhan dan pengalaman masyarakat yang menjadi bagian dari program tersebut.

Suasana selama kegiatan pun menjadi pengalaman tersendiri. Pekerjaan dilakukan sambil berbincang, bercanda, dan saling membantu. Tanah yang menempel di tangan tidak lagi terasa mengganggu karena justru menjadi bagian dari cerita yang kami bawa dari kegiatan tersebut. Di tengah kesibukan menjalankan berbagai program KKN, momen sederhana seperti ini membuat kami merasakan kedekatan yang lebih nyata dengan masyarakat.

(Doc. Buana Rizky Darmawan)
Kolaborasi bersama Ibu PKK Desa Bukit Sari dan Mahasiswa KKN IAIN Langsa Kelompok 15 dalam kegiatan menanam apotik hidup. Kamis, (13/08/2026)

Pembuatan apotek hidup juga memberikan pemahaman baru bagi kami tentang pemanfaatan lingkungan sekitar. Tanaman yang ditanam bukan sekadar untuk memperindah lahan, tetapi diharapkan dapat memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula dengan penanaman sayuran yang menjadi upaya sederhana untuk memanfaatkan lahan agar lebih produktif. Dari kegiatan tersebut, kami melihat bahwa lahan yang sebelumnya yang terbengkalai dan belum secara optimal digunakan ternyata dapat menjadi sesuatu yang bernilai ketika dikelola bersama.

Hal yang paling membuat kami berpikir setelah kegiatan selesai adalah tentang apa yang akan terjadi setelah kami meninggalkan desa. Sebagai mahasiswa KKN, kami memiliki waktu yang terbatas untuk berada di tengah masyarakat. Karena itu, keberhasilan program tidak cukup hanya dilihat dari apakah kegiatan dapat terlaksana pada hari itu. Kami mulai menyadari bahwa keberlanjutan menjadi bagian penting dari sebuah pengabdian. Tanaman yang telah ditanam harus tetap dirawat, lahan harus dijaga, dan program harus memiliki orang-orang yang bersedia melanjutkannya.

Di sinilah peran Ibu PKK menjadi sangat penting. Keterlibatan mereka sejak proses awal membuat program ini tidak berhenti sebagai kegiatan mahasiswa. Ada rasa memiliki yang dapat tumbuh karena masyarakat ikut terlibat dalam prosesnya. Bagi kami, inilah salah satu makna penting dari kolaborasi meninggalkan sesuatu yang tidak hanya pernah dilakukan bersama, tetapi juga memiliki peluang untuk terus dilanjutkan bersama.

Pengalaman tersebut juga mengubah cara pandang kami terhadap makna pengabdian. Sebelumnya, kami mungkin berpikir bahwa keberhasilan KKN dapat dilihat dari banyaknya program yang berhasil dilaksanakan. Setelah terlibat langsung, kami memahami bahwa jumlah kegiatan bukanlah satu-satunya ukuran. Sebuah kegiatan sederhana yang mampu melibatkan masyarakat, membangun kebersamaan, dan memberikan manfaat berkelanjutan justru dapat memiliki arti yang lebih besar.

Kami juga belajar bahwa masyarakat bukanlah objek yang hanya menerima program dari mahasiswa. Masyarakat adalah mitra yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan gagasan yang tidak kalah penting. Ketika mahasiswa mau mendengarkan dan masyarakat bersedia terlibat, sebuah program dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan. Hubungan tersebut membuat KKN terasa bukan hanya sebagai kewajiban akademik, tetapi sebagai proses belajar dua arah.

Pada akhirnya, kegiatan ini mengajarkan kepada kami bahwa sesuatu yang besar dapat dimulai dari hal yang sederhana. Kami mungkin hanya memulai dari sebidang lahan, beberapa peralatan, bibit, dan semangat untuk bekerja bersama. Namun dari sana tumbuh sebuah pengalaman yang tidak dapat diukur hanya dengan hasil yang terlihat. Kami menemukan arti gotong royong, belajar menghargai pengalaman masyarakat, dan memahami bahwa kebermanfaatan membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Bagi kami, tanaman yang tumbuh nantinya bukan sekadar hasil dari sebuah program kerja. Ia menjadi simbol dari kebersamaan yang pernah kami bangun bersama Ibu PKK. Setiap kali melihat lahan tersebut, kami berharap masyarakat dapat mengingat bahwa pernah ada mahasiswa KKN yang datang bukan hanya untuk menjalankan program, tetapi juga untuk belajar dan tumbuh bersama masyarakat.Mungkin suatu hari nanti kami tidak lagi berada di Desa Bukit Sari. 

Kami akan kembali ke kampus dengan membawa berbagai cerita tentang KKN. Namun, kami berharap apa yang telah dimulai di lahan tersebut tetap tumbuh dan memberikan manfaat. Sebab kami menyadari bahwa pengabdian yang sesungguhnya bukan tentang seberapa lama kita berada di suatu tempat, melainkan tentang seberapa jauh kebaikan yang kita mulai dapat terus berjalan setelah kita pergi.

Hari itu kami memang menanam tanaman. Tetapi tanpa kami sadari, kami juga sedang menanam sesuatu yang jauh lebih penting harapan, kepedulian, dan kebersamaan. Dan seperti tanaman yang membutuhkan perawatan agar terus tumbuh, kebersamaan pun membutuhkan perhatian agar tetap hidup. Itulah pelajaran paling berharga yang kami bawa dari sebuah lahan sederhana bersama Ibu PKK.

Editor: Eny Pratiwi 

Admin

Admin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.