(Doc. Nova Ulandari)
Proses penyemprotan racun disawah sebelum bibit ditanam, Desa Bandar Khalifah, Kec. Bendahara, Kab. Aceh Tamiang, Minggu (16/08/2026)
Penulis: Desi Junianda
Sawah merupakan hamparan lahan pertanian berair yang menjadi pusat kehidupan masyarakat pedesaan, sekaligus simbol keharmonisan antara manusia dan alam. Di Desa Bandar Khalifah, keberadaan sawah tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi bahan pangan utama, yaitu beras, tetapi juga membingkai lanskap pedesaan menjadi pemandangan yang indah dan menyejukkan mata. Sejak subuh menyingsing, aktivitas di sawah mulai bernapas ketika para petani mengolah tanah, menanam bibit hijau muda, hingga merawatnya dengan penuh kesabaran melewati berbagai musim.
Proses budidaya padi melewati beberapa tahapan. Berawal dari merendam bibit dalam air selama 2–3 hari hingga bersemai, bibit kemudian dirawat dan siap ditanam saat memasuki usia 15–20 hari. Selama masa pertumbuhan, tanaman padi juga perlu disemprot pestisida agar terhindar dari serangan hama. "Biasanya racun moluskisida saya gunakan untuk membasmi hama keong mas dan walang sangit," ujar Bapak Zainal Abidin, salah satu petani di Desa Bandar Khalifah.
(Doc. Desi Junianda)
Potret Mahasiswi KKN turut membantu pemberian racun disawah, Minggu (16/08/2026)
Setelah perawatan selama 2–3 bulan, padi siap dipanen. Ciri khas padi siap panen terlihat dari warna daun yang menguning merata dan mulai mengering. Setelah dipotong, padi dijemur hingga benar-benar kering. Padi dengan kadar air yang rendah memiliki nilai jual yang lebih tinggi di tingkat agen.
"Semakin kering padinya, harganya semakin mahal. Bisa mencapai Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram," Ujar Pak Zainal.
Tinggi rendahnya harga jual padi kering tersebut menjadi ganjaran sepadan atas jerih payah dan ketelitian petani selama berbulan-bulan. Nilai ekonomis yang tercipta dari butiran padi inilah yang terus menggerakkan roda perekonomian lokal dan menopang kebutuhan keluarga di pedesaan.
perjuangan para petani di Desa Bandar Khalifah bukannya tanpa hambatan. Perubahan iklim yang makin sulit ditebak serta fluktuasi harga pupuk kerap menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga produktivitas lahan. Ketangguhan mereka dalam beradaptasi dengan teknologi pertanian modern tanpa membuang nilai-nilai kearifan lokal menjadi kunci utama agar tradisi bercocok tanam ini tetap berkelanjutan hingga generasi mendatang.
Kepedulian masyarakat terhadap pengolahan sawah ini menunjukkan betapa kayanya manfaat alam, khususnya sebagai tumpuan mata pencaharian utama warga pedesaan.
Editor: Ade Nurmahdiyyah


Tidak ada komentar:
Posting Komentar