Breaking News
recent

STOP BULLYING KKN IAIN LANGSA GAUNGKAN SPEAK UP DI SMP TAMSIS

(Doc. Dara Ariska)
Mahasiswa KKN Kelompok 13 IAIN Langsa bersama guru dan siswa SMP Swasta Taman Siswa (Tamsis) berfoto bersama usai pelaksanaan sosialisasi dan workshop anti-bullying di Desa Jati Sari, Selasa (11/8/2026).

 

Penulis: Nayya Fitria

Bullying masih menjadi persoalan yang dapat memengaruhi rasa aman, kepercayaan diri, dan hubungan sosial anak di lingkungan sekolah. Karena itu, upaya membangun kesadaran tentang pentingnya saling menghargai perlu dilakukan dengan cara yang dekat dengan kehidupan siswa. Hal tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 13 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa melalui kegiatan sosialisasi dan workshop anti-bullying di SMP Swasta Taman Siswa (Tamsis), Desa Jati Sari, Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat, Selasa (11/8/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Speak Up: Bully Bukan Solusi, Empati Adalah Kunci” tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mengenai bullying, tetapi juga mengajak siswa mengenali dan mengelola emosi. Materi disampaikan secara interaktif melalui ice breaking, pemaparan jenis-jenis bullying, pembahasan dampak perundungan, hingga praktik sederhana untuk membantu siswa mengekspresikan emosi negatif. Pendekatan tersebut membuat pembahasan tentang bullying tidak berhenti pada teori, tetapi dikaitkan dengan pengalaman dan kehidupan sehari-hari siswa.

Sesi pertama diisi oleh Nayya Fitria, Sekretaris KKN Kelompok 13, yang menjelaskan pengertian serta bentuk-bentuk bullying, mulai dari perundungan fisik, verbal, sosial, hingga siber. Ia juga mengajak siswa memahami bahwa tindakan yang dianggap sebagai candaan dapat memberikan dampak serius apabila membuat orang lain merasa terluka, takut, atau tertekan.

Menurut Nayya, keberanian untuk berbicara menjadi salah satu hal penting dalam menghadapi bullying. Siswa tidak hanya didorong untuk berani menyampaikan ketika dirinya mengalami perundungan, tetapi juga diharapkan mampu membantu teman yang menjadi korban. Dengan demikian, lingkungan sekolah dapat menjadi ruang yang lebih aman dan mendorong tumbuhnya sikap saling peduli.

Pembahasan tersebut kemudian dilanjutkan dengan sesi yang dipandu Muhammad Arif Syailendra selaku Koordinator Lapangan KKN Kelompok 13. Ia mengajak siswa mengikuti kegiatan yang berfokus pada pengenalan dan pelepasan emosi negatif. Siswa diberikan kesempatan untuk menuangkan perasaan seperti marah, sedih, atau takut melalui tulisan, kemudian meremas dan membuang kertas tersebut sebagai simbol melepaskan beban yang dirasakan.

Kegiatan dilanjutkan dengan latihan pernapasan sederhana. Siswa diarahkan untuk menarik dan mengembuskan napas secara perlahan sebagai salah satu cara untuk menenangkan diri ketika menghadapi emosi yang tidak nyaman. Melalui kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan pada pentingnya mengenali perasaan sebelum mengambil tindakan terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Anti-bullying pada dasarnya tidak cukup hanya dengan mengajarkan siswa untuk tidak melakukan perundungan. Lebih jauh, diperlukan pembentukan empati agar siswa mampu memahami bahwa setiap orang memiliki perasaan dan pengalaman yang berbeda. Ketika empati tumbuh, siswa diharapkan dapat lebih berhati-hati dalam berbicara maupun bertindak kepada teman.

Kegiatan yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut mendapat respons positif dari siswa dan pihak sekolah. Antusiasme terlihat selama sesi materi maupun praktik berlangsung. Bahkan, salah satu siswa berharap mahasiswa KKN dapat kembali berkunjung dan melaksanakan kegiatan serupa. Respons tersebut menunjukkan bahwa pendekatan yang interaktif dapat membuat pembahasan mengenai isu yang serius menjadi lebih mudah diterima oleh siswa.

Bagi mahasiswa KKN Kelompok 13, kegiatan ini menjadi bagian dari proses pengabdian yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga membangun kedekatan dengan generasi muda. Sementara bagi siswa, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk belajar mengenai keberanian berbicara, pengelolaan emosi, dan pentingnya memperlakukan orang lain dengan empati.

Pada akhirnya, menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari bullying bukan hanya menjadi tanggung jawab guru atau pihak sekolah. Siswa, orang tua, mahasiswa, dan masyarakat juga memiliki peran dalam membangun budaya yang menghargai satu sama lain. Speak up bukan berarti mencari masalah, melainkan berani menyuarakan ketika sesuatu yang tidak baik terjadi dan memilih untuk tidak diam ketika melihat orang lain disakiti.

Editor: Ade Nurhmahdiyyah 

Admin

Admin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.