![]() |
| (Doc. Diah Kemala Dewi) Pembukaan kajian LPQH IAIN Langsa bertajuk “Dari Viral ke Ilmiah” di Aula Gedung SBSN IAIN Langsa. Jumat, (25/09/2026). |
Penulis : Lutfia Pratiwi
Langsa, Zawiyah News – Lembaga Pengkajian Al-Qur’an dan Hadis (LPQH) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa menyelenggarakan kajian bertema “Dari Viral ke Ilmiah, Mengurai Polemik Syaikh Al-Albani dalam Perspektif Ilmu Hadis” dengan menghadirkan Nur Raihan, M.Us. sebagai pemateri. Kajian tersebut membahas polemik Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani melalui perspektif ilmu hadis dan berlangsung di Gedung Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) IAIN Langsa mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Jumat, (25/09/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Pembina LPQH Dr. Asrar Mabrur Faza, S.Th.I., M.A., Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) Dr. Mawardi, S.Pd., M.S.I., pengurus dan anggota LPQH, serta 35 peserta. Kehadiran pimpinan dan pembina tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap kegiatan akademik yang diselenggarakan LPQH dalam mengembangkan kajian Al-Qur’an dan hadis di lingkungan kampus.
Kegiatan tersebut bertujuan mengajak mahasiswa dan masyarakat luas agar tidak menerima informasi keagamaan maupun perdebatan yang viral di media sosial secara mentah-mentah. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi upaya membangun kembali tradisi literasi keagamaan yang berbasis pada metodologi ilmu hadis secara ilmiah, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.
Dalam pemaparannya, Nur Raihan menjelaskan keterkaitan antara ilmu tafsir dan ilmu hadis. Ia mengaitkan pembahasan tersebut dengan pemikiran para mufasir reformis, salah satunya Muhammad Rasyid Ridha yang bersama Muhammad Abduh dikenal sebagai tokoh pembaru dalam kajian tafsir Al-Qur’an pada awal abad ke-20.
Menurut Nur Raihan, hubungan antara tafsir dan hadis dapat dilihat salah satunya melalui Tafsir Al-Manar. Meskipun tafsir tersebut menggunakan pendekatan al-adab al-ijtima’i yang memberikan perhatian terhadap persoalan sosial serta pendekatan rasional, hadis tetap menjadi salah satu sumber yang diperhatikan dalam penafsiran.
“Ketika kita mengambil referensi daripada tafsir bi al-ra’yi atau menggunakan logika, hadis itu bukan berarti tidak digunakan. Bahkan Rasyid Ridha pada masa reformis itu tetap mengandalkan hadis-hadis dengan cermat,” jelas Nur Raihan.
Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan hadis dalam penafsiran tetap perlu memperhatikan kualitas dan konteksnya. Ketika suatu hadis tidak sesuai dengan konteks ayat, asbabun nuzul, maupun asbabul wurud, riwayat tersebut tidak serta-merta digunakan dalam penafsiran.
“Ketika ada hadis yang tidak sesuai dengan konteks atau asbabun nuzul, asbabul wurud yang tidak sesuai dengan ayat tersebut, beliau tidak mau ambil. Beliau lihat kualitas hadis itu seperti apa,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Nur Raihan menyampaikan bahwa mufasir pada masa kontemporer juga melakukan kritik terhadap hadis. Namun, kritik tersebut tidak selalu berupa pengulangan terhadap penilaian kredibilitas hadis yang telah dilakukan oleh ulama terdahulu, melainkan dapat dilakukan dengan memahami hadis berdasarkan konteksnya.
“Kritiknya bukan mereklasifikasi atau mengulang kembali kredibilitas hadis yang sudah dilakukan, tetapi memahami secara konteks,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia T. Rahmat Ramadhan mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat membangun sikap kritis mahasiswa dan masyarakat dalam menghadapi informasi keagamaan yang berkembang di media sosial.
“Tujuan utama itu untuk mengajak kita semua, khususnya mahasiswa dan masyarakat luas pada umumnya, untuk tidak menelan informasi keagamaan atau perdebatan yang viral di media sosial secara mentah-mentah,” ujar T. Rahmat Ramadhan.
Ia berharap peserta kegiatan maupun masyarakat luas tidak mudah terprovokasi oleh potongan-potongan video atau pernyataan yang beredar di media sosial. Menurutnya, ketika muncul isu keagamaan yang ramai diperbincangkan, masyarakat seharusnya melakukan tabayyun dan menguji informasi tersebut sebelum memberikan tanggapan.
“Harapannya, baik peserta seminar ataupun di luar itu, kita tidak lagi gampang terprovokasi oleh potongan-potongan video yang dipotong oleh klipper ataupun statement orang di media sosial. Karena ketika ada isu keagamaan yang meramai, kita bukannya refleks tabayyun, menguji, malah kita saling perang narasi di situ,” ungkapnya.
Editor: Sri Rahayu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar